Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Sunday, January 8, 2017

Pesan untuk Sepak Bola Indonesia di Balik 'Pengkhianatan' Patrick Cruz

View Article
Patrick Dos Santos Cruz saat menjalani trial di klub Swedia IFK Goteborg pada 2015.
Usia Patrick Dos Santos Cruz yang masih muda, 23 tahun, membuatnya cukup berpeluang mengepakkan sayap kariernya lebih lebar.

Tak heran jika dia sampai sekarang masing menyimpan angan-angan berkarier di kompetisi sepak bola Eropa yang bisa dikatakan jadi kiblat dan surga dalam urusan menjalani karier profesional.

Eropa bagaimanapun sampai sekarang adalah benua impian yang menjanjikan karier menjanjikan bagi setiap pemain sepak bola. Hal itu juga yang masih jadi impian mantan pemain Mitra Kukar tersebut.

Meski menjalani karier cukup mulus di level junior dan sempat dipanggil beberapa kali membela Timnas Brasil U-20 dan U-23. Namun Patrick Cruz seolah menemui rintangan berat saat menginjakan karier di level senior atau profesional.

Di negaranya, Patrick Cruz sempat singgah ke beberapa klub yang tergolong lumayan ternama. Di antaranya Corinthians dan Flamengo, namun kariernya tak berlangsung lama.

Pada awal 2015, Patrick Cruz ternyata diketahui sempat mencoba peruntungan di Eropa. Dia diketahui menjalani trial di klub papan atas Swedia IFK Goteborg, namun gagal mendapatkan kontrak dari klub pengoleksi 18 gelar juara Liga Swedia tersebut.

Sebelum ke Swedia Patrick Cruz pun seperti dilansir laman resmi IFK Goteborg sempat menjalani trial di Portugal, namun gagal. Tak bisa mewujudkan mimpi bermain di Eropa karena tak ada klub yang menerimanya, Patrick Cruz kemudian mendapat tawaran singgah ke Indonesia.

Mitra Kukar jadi klub yang cukup 'beruntung' bisa menggunakan jasanya. Terbukti Patrick Cruz bisa menghadirkan efek luar biasa kepada Naga Mekes di turnamen Piala Jenderal Sudirman. Ketajamannya mampu membantu Naga Mekes menjuarai turnamen pengisi kekosongan kompetisi resmi akibat pembekuan PSSI oleh pemerintah.

Setelah menjalani karier selama satu musim di Malaysia bersama T-Team FC. Namanya kembali mencuat setelah Persib mengumumkan telah menjalin kesepakatan dengan pemain jebolan akademi sepak bola Sao Paulo tersebut. Kabar tersebut sontak disambut gembira bobotoh.

Setelah sekitar dua pekan sejak diumumkan bakal bergabung ke Maung Bandung, Patrick Cruz bisa dikatakan jadi sosok yang paling dinantikan kehadirannya oleh manajemen, jajaran pelatih, dan pemain Persib serta tentunya bobotoh.

Namun tiba-tiba, Jumat (6/1/2017), Patrick Cruz memberikan 'kejutan' yang cukup melukai perasaan bobotoh dan Persib. Sejumlah media Vietnam memberitakan namanya sebagai salah satu rekrutmen Sai Gon FC.

Akhirnya Patrick Cruz jadi sosok yang dibenci karena keputusannya pergi ke Vietnam meski agennya sudah menerima uang muka sebagai tanda jadi. Manajer Persib Umuh Muchtar geram dan mengungkapkan kekecewaannya kepada agen karena tak bisa mengawal Patrick Cruz untuk datang ke Indonesia.

Hal lain yang bikin kesal Persib adalah sikap agen yang menuntut Patrick Cruz dikontrak satu paket dengan Alex Willian Costa Silva yang secara kualitas belum diketahui meski rekaman video menunjukkan pemain yang doyan gonta-ganti klub itu punya kemampuan cukup baik.

Satu hari setelah namanya diumumkan sah milik Sai Gon FC, Patrick Cruz membuat video 'pengakuan dosa' yang diunggahnya di akun Instagram. Dia menyampaikan permintaan maaf dan membeberkan alasan kenapa dirinya memilih Liga Vietnam dan membatalkan kesepakatan lisan dengan Persib.

Secara etika, Patrick Cruz menunjukkan dirinya bukan sosok yang bisa menghargai komitmennya. Namun jika disimak lebih dalam, alasannya memilih berkarier di Liga Vietnam, juga bisa dimaklumi dan bahkan jadi pesan tersembunyi, terutama bagi pegiat ataupun pelaku sepak bola di Indonesia.

Salah satunya adalah jaminan menciptakan wadah kompetisi yang bermutu sehingga bisa memberikan kenyamaan kepada para pelakunya, dalam hal ini pemain dan pelatih. Dengan kompetisi berkualitas, baik secara pengelolaan maupun pelaksanaan.

Hambatan non-teknis selama ini memang kerap terjadi di sepak bola Indonesia yang membuat para pelakunya menjadi tak nyaman. Seperti saat terjadinya dualisme PSSI dan dualisme kompetisi. Lalu pada 2015 terjadi gesekan antara pemerintah dan PSSI yang mengakibatkan kompetisi tak berjalan dan berujung sanksi FIFA.

Dampaknya mereka yang menggantungkan hidup dari sepak bola resah meski sejumlah turnamen digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi yang setidaknya bisa membuat para pelakunya tetap menyambung kebutuhan hidup.

Tradisi 'konflik' di sepak bola Indonesia inilah yang bisa jadi, membuat para pemain asing tak menjadikan Indonesia sebagai prioritas tujuan karier meski saat ini status Indonesia sudah pulih setelah FIFA mencabut sanksi.

Sepak bola Indonesia yang belum berdiri sendiri atau masih sangat dipengaruhi faktor lain, faktanya sering menimbulkan ketakutan. Salah satunya kompetisi bakal berjalan tak mulus, bahkan terhenti di tengah jalan karena beragam faktor, tak terkecuali agenda politik -padahal sejatinya tak harus dijadikan alasan-.

Tak heran jika kompetisi sepak bola Indonesia untuk ukuran ASEAN magnetnya bisa dikatakan kalah kuat dari Liga Thailand, Liga Malaysia dan Liga Vietnam.

Meski sempat diguncang skandal suap dan pengaturan skor. Tapi dengan kompetisi sepak bola yang lebih tertata rapi, tak heran jika Patrick Cruz ingin menjadikan Liga Vietnam sebagai pijakan untuk mewujudkan mimpinya yang sempat tertunda yakni bermain di kompetisi Liga Eropa seperti yang dijelaskan dia di akun Instagramnya.

"Saya akan ..... (bermain) musim berikutnya di Vietnam, karena saya punya mimpi main di Europa. Jadi aku harus pergi melalui langkah ini sehingga saya dapat mencapai impian saya," jelasnya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.(*)

Monday, January 2, 2017

Catatan Karier Matsunaga: Sempat Mencuri Hati Bobotoh Hingga Ditolak Persija

View Article
Shohei Matsunaga bersama skuat Persib di kompetisi ISL 2010/2011.
Sudah hampir 10 tahun Matsunaga Shohei menjalani karier sebagai pemain sepak bola profesional. Enam tahun di antaranya dia habiskan di Indonesia.

Gelandang lincah yang sempat membela tim cadangan atau reserve team klub Bundesliga FC Schalke 04 itu, pertama kali menginjakan kakinya di Tanah Air pada Februari 2011.

Matsunaga memutuskan datang ke Indonesia setelah menjalani karier kurang mengesankan bersama klub Divisi II Liga Jepang Ehime FC. Persib Bandung yang kala itu ditangani pelatih Daniel Roekito jadi klub pertama yang memberinya kesempatan mencicipi atmosfer kompetisi sepak bola Indonesia.

Matsunaga menghiasi skuat Maung Bandung saat kompetisi ISL musim 2010/2011 memasuki putaran kedua untuk mengisi slot pemain asing Asia setelah sebelumnya Persib mendepak Shahril Ishak dan Bhaihakki Kaizan plus mendepak penyerang Pablo Frances. Namanya diumumkan secara resmi sebagai pemain anyar Persib oleh Manajer Persib Umuh Muchtar pada 23 Februari 2011.

Performa Matsunaga selama dua hari menjalani tes dan latihan lebih memikat hati Daniel dan manajemen, dibandingkan gelandang lokal Doni F Siregar yang juga ikut dalam proses seleksi. Padahal Doni sebenarnya cukup dikenal sosok pelatih yang membawa Persik Kediri juara Liga Indonesia 2006 tersebut karena pernah bersama-sama di Persiba Balikpapan.

Awalnya seolah berjalan sempurna buat Matsunaga. Dia langsung memperlihatkan kontribusi besar berkat pergerakan lincah di lapangan plus kemampuannya mencetak gol. Matsunaga mencetak gol di partai debutnya bersama Persib saat meladeni Semen Padang dalam laga yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Agus Salim, 5 Maret 2011.

Matsunaga kembali mencuri perhatian ketika membuka skor keunggulan buat Persib kala tandang ke Karawang melawan Pelita Jaya yang saat itu masih dihuni Djadjang Nurdjaman di jajaran staf pelatih. Kali ini gol Matsunaga turut membantu membawa Persib meraih tiga poin usai meraih kemenangan 2-1.

Apa yang ditunjukkan Matsunaga di dua laga awal putaran kedua menumbuhkan harapan tinggi dalam benak bobotoh. Matsunaga diyakini bisa melebihi pencapaian 'Samurai' pertama yang pernah membela Persib, Satoshi Otomo di musim sebelumnya.

Terlalu tinggi harapan dan seolah terbebani oleh pujian yang dilayangkan kepada dirinya. Meski sempat mencetak gol lagi ketika Persib kalah 2-3 dari Persija Jakarta di pertandingan ketiga putaran kedua ISL 2010/2011. Matsunaga justru memperlihatkan penurunan performa di laga-laga berikutnya.

Bahkan setelah kompetisi ISL 2010/2011, Matsunaga tak masuk daftar proyeksi pelatih anyar Drago Mamic di skuat Maung Bandung di musim 2011/2012. Matsunaga kemudian memutuskan bergabung dengan Persiba Balikpapan. Di Beruang Madu, Matsunaga hanya bertahan satu musim.

Musim berikutnya dia berlabuh di Persegres Gresik United dan kariernya tergolong lumayan awet karena Matsunaga mampu bertahan selama empat tahun dari 2012-2016. Setelah itu, kontraknya tak diperpanjang manajemen Gresik.

Jelang turnamen ISC A 2016, Matsunaga sempat merasakan 'perihnya' berjuang sebagai pemain asing kelas 'dua'. Sebab dia harus pergi dari satu klub ke klub lain untuk menjalani seleksi demi mendapatkan tempat dan kertas kontrak.

Sejumlah klub yang pernah didatangi Matsunaga, di antaranya Persija Jakarta, Madura United, dan PSM Makassar tak tertarik dengan kemampuannya. Hingga akhirnya Matsunaga memutuskan memilih bergabung kembali dengan Persiba yang ditangani Jaino Matos.

Di klub berjuluk Beruang Madu inilah, Matsunaga bisa bangkit dan membuktikan Persija, Madura United dan PSM telah melakukan kesalahan karena mengesampingkan kemampuannya. Lewat sentuhan Jaino Matos yang juga pernah mememoles Febri Hariyadi di Persib U-21, Matsunaga berkembang pesat dan cukup produktif secara individual meski secara tim tak mampu berbuat banyak mengangkat prestasi Persiba.

Ingin Mencapai Puncak Karier Bersama Persib
Perjalanan Matsunaga selama enam tahun di Indonesia yang naik-turun, bagaimanapun telah membuat mentalnya sekarang diyakini lebih tangguh. Kini Matsunaga dinilai lebih matang dan tentunya punya pengalaman, modal itu yang diharapkan bisa membuat Matsunaga dapat memberikan kontribusi lebih besar buat Persib dibandingkan ketika dirinya pertama kali datang ke Indonesia.

Matsunaga kembali ke Persib setelah 'dimatangkan' Persiba Balikpapan dan Persegres Gresik United. PERSIB.CO.ID
Dari segi usia, Matsunaga pun bisa dikatakan sedang berada di usia emas dan ideal yakni 27 tahun. Secara teknis Matsunaga pun dinilai punya kelebihan karena bisa diberikan peran di sejumlah posisi. Di antaranya gelandang serang, winger dan striker.

Faktor kematangan, pengalaman, dan kelebihannya yang bisa bermain di tiga posisi berbeda inilah yang sebenarnya jadi pertimbangan utama dari banyak pertimbangan yang dimiliki Pelatih Djadjang Nurdjaman untuk membawanya kembali ke Bandung.

"Pertimbangannya, Matsunaga yang sekarang adalah Matsunaga yang memiliki permainan yang lebih matang. Jika dibandingkan dulu saat dia main di Persib, kan baru berusia 20 tahun," ujar Djanur.

"Dia juga merupakan pemain yang bisa ditempatkan di berbagai posisi. Dia bisa main sebagai striker, sayap, atau gelandang serang. Hal tersebut membuat kami memiliki banyak opsi untuk memainkan dia di berbagai posisi," pungkasnya.

Bersama Persib, Matsunaga sendiri mengungkapkan harapannya ingin mencapai klimaks atau puncak karier sebagai pemain dari sudut prestasi tim. Kebetulan di skuat Persib, ada sejumlah pemain yang sudah dikenalnya karena pernah sama-sama bermain. Salah satunya I Made Wirawan yang pernah satu klub dengan dirinya di Persiba.

"Semoga bisa cepat beraptasi, ada pemain yang pernah bersama juga, Made, Hariono, Atep dan lainnya. Saya berharap bisa memberikan yang terbaik dan mudah-mudahan bisa cetak gol," tutupnya.(*)

BIODATA


Nama Lengkap
Shohei Matsunaga
Lahir
7 Januari 1989
Tempat Lahir
Mishima, Shizuoka, Jepang
Tinggi
174 cm
Posisi
Gelandang
Tim Junior
2007
FC Schalke 04 II
Karier Profesional
Years
Team


2008–2010
Schalke 04 II


2010
Ehime FC


2011
Persib Bandung


2011–2012
Persiba Balikpapan


2012–2016
Gresik United


2016
Persiba Balikpapan


2017–
Persib Bandung


Saturday, December 24, 2016

Datang 'Menjemput' Trofi, Berharap Pergi Sebagai Juara

View Article
Vladimir Vujovic ikut berperan dalam mewujudkan apa yang diharapkan Persib Bandung dan jutaan bobotoh selama 19 tahun, menjadi juara atau yang terbaik di Indonesia pada kompetisi ISL 2014.

Gelar tersebut terasa spesial, sebab Vlado merasakannya di musim pertama dia berkarier bersama Persib dan di Indonesia.

Datang ke Persib untuk 'menjemput' gelar juara yang sudah diidamkan cukup lama, Vlado pun ingin 'pergi' dari Maung Bandung dengan membawa trofi. Dia berharap bisa meninggalkan sepak bola dan Persib dengan manis.

Seperti diketahui, Vlado nampaknya sudah teguh dan berkomitmen musim depan bakal jadi musim terakhirnya berkarier sebagai pesepakbola profesional.

"Tahun depan adalah tahun terakhir saya sebagai pemain dan saya berharap bisa mengakhiri karier sebagai juara Indonesia lagi bersama Persib," harapnya, dilansir Pikiran-rakyat.com.

Meski kerap menimbulkan rasa 'khawatir' karena sikap dan emosinya di lapangan, tapi Vlado membuktikan semua itu merupakan bentuk totalitas dan spirit dirinya demi memberikan yang terbaik buat Maung Bandung.

Sejak resmi dikontrak pada 2013, tanpa mengecilkan peran pemain lainnya, Vlado berperan besar saat Maung Bandung meraih gelar juara ISL 2014, Piala Wali Kota Padang 2015, dan Piala Presiden 2015.

"Tantangan pada musim depan akan lebih berat. Kami harus mempersiapkan diri lebih baik karena tim-tim lain juga berbenah. Kami harus segera bangkit setelah gagal jadi juara musim ini. Kompetisi nanti adalah yang sesungguhnya, kami harus kembali ke podium juara," ujarnya.(*)

Wednesday, November 30, 2016

'Anomali' Perseru dan Persib

View Article
Minimnya ekspose media terhadap perkembangan Perseru Serui jadi keuntungan tersendiri buat klub berjulukan Cendrawasih Jingga tersebut.

Tanpa ekspose media, Perseru bisa menyembunyikan kekuatan mereka dan menyulitkan lawannya untuk mengorek informasi seputar klub yang bermarkas di Stadion Marora tersebut. Hal itu diakui oleh Pelatih Perseru Hanafi.

Situasi itu juga dirasakan oleh Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman. Tak seperti menghadapi tim lainnya, kali ini Djanur harus 'kerja keras' mencari sumber informasi untuk mempelajari seluk beluk kekuatan Perseru.

Selain bekal pertemuan pada putaran pertama di Stadion Marora, Djanur pun mempelajari kekuatan Perseru melalui rekaman video pertandingan mereka. Memang tak sesering Persib yang kerap disiarkan langsung televisi, tapi paling tidak itu bisa dijadikan bahan untuk Djanur mengupas kekuatan Perseru.

Jika Perseru sangat jarang terpantau media maka Persib justru sebaliknya. Soal bahan-bahan informasi kekuatan, tim lawan bisa dengan mudah mencari tahu soal Persib. Itu tak lepas dari ekspose media yang tergolong luar biasa kepada Maung Bandung. Perkembangan Persib selama ini rutin di-update media, baik cetak, online maupun televisi dan radio.

Persib pun merupakan salah satu tim yang pertandingannya rutin disiarkan langsung televisi baik saat laga kandang maupun tandang. Hanya duel lawan Perseru yang luput dari siaran langsung dan mengagalkan Maung Bandung jadi klub yang menorehkan catatan '100 persen' disiarkan langsung televisi.

Itu dikarenakan pihak televisi pemegang hak siar kesulitan membawa peralatan siaran langsung karena masih terbatasnya transportasi ke Kota Serui. Jadi sulit berharap bisa menyaksikan Perseru atau klub kesayangan Anda nongol di televisi saat tandang ke Kota Serui.

Aksi para pemain Perseru sendiri selama ini hanya bisa dinikmati saat mereka memainkan laga tandang. Seperti saat menghadapi Persib di Stadion si Jalak Harupat, Rabu (30/11/2016) sore ini yang rencananya disiarkan live di Indosiar.(*)

Monday, November 28, 2016

Bagi Vietnam, Alfred Riedl Adalah Pahlawan

View Article
Pelatih Vietnam Nguyen Huu Thang mengaku tak sabar adu strategi dan taktik dengan Alfred Riedl yang merupakan mantan mentornya ketika dirinya membela skuat Bintang Emas di Piala Tiger 1998 lalu.

Kala itu timnas Vietnam berhasil mencapai final, namun kalah 0-1 dari Singapura di partai puncak dan apa yang dicapai Nguyen baik selama jadi pemain maupun ketika merintis karier sebagai pelatih, seperti dilaporkan Bongdaplus yang dikutip Pikiran-rakyat.com, tak lepas dari peran Riedl yang dulu dinilainya banyak membantu perkembangan sepak bola Vietnam.

Riedl ibarat pahlawan yang menghadirkan perubahan besar dalam sepak bola Vietnam hingga membuat mereka bisa jadi salah satu negara yang cukup disegani di kawasan ASEAN. Bahkan, di level junior timnas sepak bola Vietnam juga cukup diperhitungkan di Asia. Buktinya mereka baru saja sukses mengirim timnas U-19 ke Piala Dunia U-20 setelah menembus semifinal Piala Asia U-19 2016.

Riedl sendiri menangani timnas Vietnam dalam tiga periode berbeda. Masing-masing dari tahun 1998 sampai 2000. Lalu, 2003-2004 dan 2005-2007. Sebelum dipercaya menangani timnas Indonesia, Riedl sempat jadi arsitek timnas Laos pada 2009-2010.

Di semifinal Piala AFF 2016, sama halnya dengan Indonesia, Vietnam pun di leg pertama tidak akan diperkuat oleh pemain andalannya, Truong Dinh Luat. Pemain belakang Vietnam tersebut absen setelah mendapatkan kartu merah di laga terakhir Grup B melawan Kamboja, akhir pekan lalu. Beberapa nama menurut Huu Thang telah disiapkannya, salah satunya adalah Tran Dinh Dong.

Dari catatan pertemuan kedua negara tersebut di Piala AFF sejak 1006 lalu, Indonesia dan Vietnam lebih banyak bertemu di babak penyisihan grup. Tercatat tiga kali pertemuan mereka di fase grup pada tahun 1996, 2002, dan 2007 semua berbuah poin imbang.

Satu kali mereka bertemu di semifinal Piala AFF 2000, dimana ketika itu Vietnam takluk dari Indonesia 2-3 lewat gol penentu yang diciptakan Gendut Doni Christiawan pada menit-menit akhir. Lalu, satu kali juga mereka berjumpa pada perebutan juara ketiga pada AFF 1996 lalu, ketika itu Vietnam berhasil mengalahkan Indonesia 3-2 untuk meraih perunggu.

Secara keberhasilan, Indonesia tercatat empat kali lolos menembus babak semifinal pada 2000, 2002, 2004, dan 2010. Dimana di tahun-tahun tersebut, Indonesia finis sebagai runner-up.

Sementara, Vietnam mencatatkan delapan kali lolos ke babak semifinal, tapi mereka hanya dua kali menyentuh partai final. Dari dua final tersebut, Vietnam pernah merengkuh juara AFF pada 2008 setelah mengalahkan Thailand.(*)

Saturday, November 19, 2016

Tradisi Nyaris Juara Indonesia di Piala AFF

View Article
Timnas Indonesia menatap Piala AFF 2016 dalam kondisi baru bangkit dari 'tidur' akibat sanksi FIFA yang membuat Indonesia selama sekitar satu tahun tak bisa berpartisipasi di semua kompetisi, baik di level negara maupun klub.

Selama hampir satu tahun berada di bawah sanksi FIFA, Indonesia juga dicoret dari Kualifikasi AFC U-16 dan AFC U-19, Kejuaraan Regional Wanita AFC U-14, Kejuaraan Futsal Wanita AFC Malaysia 2015, Kejuaraan Futsal AFC 2016 (kualifikasi zona AFF), Piala AFC 2015 dan Liga Champions Asia di level klub.

FIFA mencabut sanksi kepada Indonesia pada pekan kedua Mei 2016 dan mengumumkannya dalam Kongres Tahunan FIFA di Meksiko. Sepak bola Indonesia sejak itu kembali memiliki harapan setelah kehilangan banyak momentum berharga.

Piala AFF 2016 merupakan turnamen resmi pertama yang diikuti timnas senior Indonesia setelah terbebas dari sanksi FIFA. Meski menuai hasil cukup baik dalam empat laga uji coba yang dijalani sebelum bertarung di Piala AFF 2016. Namun Indonesia bukan negara favorit juara di turnamen kali ini.

Kendati lolos otomatis ke putaran final, namun posisi Indonesia berada di pot empat atau sejajar dengan negara yang lolos lewat jalur kualifikasi yakni Kamboja. Dalam dua penyelenggaraan terakhir, langkah Indonesia selalu kandang di penyisihan grup.

Meski bukan favorit utama, namun harapan menjadi jawara di kawasan ASEAN tetap diapungkan PSSI sebelum skuat asuhan pelatih Alfred Riedl itu berangkat menuju Filipina. Dengan masa persiapan yang relatif lebih singkat dibandingkan negara lain. Skuat Garuda berusaha menghapus tradisi 'nyaris' juara di turnamen ini.

Indonesia bisa dikatakan paling 'apes' dibandingkan negara lain yang pernah menembus partai puncak Piala AFF. Dari empat kali kesempatan tampil di final, tak sekalipun skuat Garuda mengakhirinya dengan pesta juara.

Piala AFF 2000

Di kesempatan final pertama yakni di Piala AFF 2000, Indonesia gagal setelah menelan kekalahan 1-4 dari tuan rumah Thailand saat turnamen ini masih menggunakan format home tournament. Namun begitu keberhasilan Indonesia ke final kala itu tergolong mengejutkan setelah di semifinal secara dramatis mengalahkan Vietnam yang tampil impresif di penyisihan grup dengan skor 3-2 lewat perpanjangan waktu.

Piala AFF 2002
Selang dua tahun kemudian, masih dalam format home tournament, Indonesia memiliki momentum bagus karena selain persiapan yang dilakukan pun tergolong lebih matang dibandingkan dua tahun sebelumnya. Skuat Garuda juga tampil di kandang sendiri.

Memulai turnamen dengan grogi dan hasil kurang memuaskan setelah ditahan tanpa gol oleh Myanmar. Indonesia lolos ke semifinal setelah meraih kemenangan 4-2 atas Kamboja, imbang 2-2 melawan Vietnam, dan menggulung Filipina dengan skor 13-1.

Skuat Garuda lolos ke final setelah mengandaskan musuh bebuyutan Malaysia dengan skor 1-0 di Gelora Bung Karno lewat gol Bambang Pamungkas. Kemenangan tersebut menumbuhkan angan-angan Indonesia bisa menggelar pesta juara di kandang sendiri.

Tapi harapan kembali kandas dan lagi-lagi Thailand jadi 'pelakunya' setelah mengubur impian Indonesia dengan cara yang cukup menyakitkan. Indonesia kalah adu penalti di depan sekitar 100.000 penonton yang memenuhi Gelora Bung Karno dengan skor 2-4 setelah di waktu normal dan perpanjangan waktu bermain imbang 2-2.

Piala AFF 2004

Di edisi berikutnya, Indonesia kembali menembus final. Bahkan, performa Indonesia di Piala AFF 2004 bisa dikatakan salah satu yang terbaik. Salah satunya berkat comeback luar biasa skuat Garuda ketika menyingkirkan Malaysia di semifinal.

Setelah kalah 1-2 di leg pertama semifinal di Jakarta. Pasukan Merah Putih yang dipimpin pelatih Peter Withe kemudian membuat cerita heroik di Stadion Nasional Bukit Jalil pada leg kedua semifinal.

Sempat seperti kehilangan harapan akibat Malaysia memperlebar skor aggregat melalui gol Muhamad Khalid Jamlus di babak pertama. Indonesia membuat publik Negeri Jiran terpana sekaligus kecewa setelah di babak kedua menggelontorkan empat gol untuk membalikan keadaan jadi unggul aggregat 5-3.

Kiprah timnas Indonesia di Piala AFF 2004 banyak mengundang pujian, bahkan media nasional seperti Tabloid Bola kala itu 'jarang-jarang' menempatkan kiprah timnas di halaman cover dengan memasang foto Boaz Solossa yang kala itu masih berusia 18 tahun. Boaz di Piala AFF 2004 memang tampil impresif, kolaborasinya dengan Ilham Jayakesuma maupun Kurniawan Dwi Yulianto sangat menakutkan buat pemain belakang lawan.

Sayangnya di final, harapan Indonesia kembali buyar. Kali ini giliran Singapura yang mengubur impian Indonesia. Tahu nyawa Indonesia ada dalam diri Boaz, Negeri Singa seolah sudah memersiapkan rencana untuk membuat Boaz mati kutu, termasuk dengan mencederainya.

Paling tidak itu terlihat dari terjangan keras menjurus brutal yang dilakukan Baihakki Khaizan kepada Boaz di leg pertama final yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno. Akibat terjangan bek yang kemudian berkarier di Indonesia bersama Persija Jakarta dan Persib Bandung itu, Boaz mengalami cedera serius hingga harus ditandu dan digantikan pemain lain.

Indonesia akhirnya menyerah di dua pertemuan partai final. Kalah 1-3 di Jakarta dan menyerah 1-2 di Singapura. Kegagalan tersebut jadi hattrick runner-up buat Indonesia.

Piala AFF 2010
Setelah gagal di Piala AFF 2007 karena kalah selisih gol dari Singapura dan Vietnam di penyisihan grup. Indonesia kembali menunjukkan kelasnya di Piala AFF 2010. Kali ini skuat Merah Putih terlihat berbeda karena diperkuat pemain naturalisasi.

Dua pemain naturalisasi yang berseragam Merah Putih tersebut adalah Irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Kontribusi mereka terlihat nyata saat Indonesia membantai Malaysia di laga pembuka dengan skor 5-1. Indonesia melanjutkan dominasi dengan menggulung Laos enam gol tanpa balas. Terakhir, memulangkan Thailand lewat kemenangan 2-1 sekaligus memberi jalan kepada musuh bebuyutan Malaysia untuk melenggang ke semifinal.

Di semifinal Indonesia mendapatkan keuntungan karena Filipina yang harusnya jadi tuan rumah leg pertama semifinal memutuskan menggelar pertandingan di Jakarta. Filipinan sendiri lolos ke semifinal berkat bantuan sejumlah pemain naturalisasinya yang mengubah kekuatan mereka dari tim lemah jadi skuat yang cukup diperhitungkan.

Dalam dua pertemuan, Christian Gonzales yang saat itu berstatus sebagai pemain Persib Bandung jadi aktor kemenangan Indonesia yang diraih dengan skor sama 1-0 (aggregat 2-0). Indonesia lolos ke final dan ditantang Malaysia yang secara mengejutkan menyingkirkan Vietnam di semifinal dengan aggregat 2-0.

'Keputusan' Indonesia memberikan jalan kepada Malaysia, terasa jadi bumerang karena di final Harimau Malaya tampil beda. Seolah tak terlihat skuat Malaysia yang dibantai 5-1 oleh Indonesia di partai pembuka.

Malaysia tampil penuh motivasi dan menggulung Indonesia dengan skor 3-0 di leg pertama final yang digelar di Stadion Nasional Bukit Jalil. Kekalahan tersebut membuat perjuangan Indonesia untuk membalikan keadaan menjadi sangat berat meski di leg kedua tampil sebagai tuan rumah.

Indonesia dituntut mencetak minimal empat gol tanpa balas. Sementara Malaysia sudah di atas angin, karena hanya butuh hasil imbang atau tidak kalah dengan selisih empat gol. Akhirnya Indonesia kembali jadi spesialis runner-up meski di leg kedua meraih kemenangan 2-1 karena skor aggregat masih jadi milik Malaysia, 4-2.

Gagal Total di 2012 dan 2014

Piala AFF 2012 dan 2014 bisa dikatakan jadi periode terburuk timnas Indonesia. Dualisme kepengurusan dan kompetisi ikut memengaruhi kualitas timnas Indonesia di dua penyelenggaraan terakhir dan terhenti langkahnya di penyisihan grup.

Piala AFF 2016?
Meski tahu butuh perjuangan ekstra, Ketua Umum PSSI yang baru terpilih, Edy Rahmayadi tetap berharap timnas Indonesia jadi juara di Piala AFF 2016. Edy tetap memandang Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah baik dibandingkan negara lainnya yang lebih difavoritkan.

"Berikan yang terbaik untuk negara ini. Maksud yang terbaik itu adalah menjadi juara. Buat apa timnas Indonesia datang jauh-jauh kalau tidak menjadi juara," kata Edy saat menyambangi penginapan timnas sebelum berangkat ke Filipina.(*)

Prestasi Indonesia di Piala AFF1996 Peringkat Empat
1998 Peringkat Tiga
2000 Runners Up
2002 Runners Up
2004 Runners Up
2007 Penyisihan Grup
2008 Semi Final
2010 Runners Up
2012 Penyisihan Grup
2014 Penyisihan Grup

Saturday, November 12, 2016

The Next Boaz yang Nyaris Gabung ke Persib Ini Mulai Terpinggirkan

View Article
Ricky Kayame melakukan selebrasi usai menjebol gawang PS TNI di Stadion Pakansari, Bogor. Indonesiansc.com
Digadang-gadang bakal jadi The Next Boaz Solossa, Ricky Kayame malah terlihat terbebani oleh julukan tersebut. Faktanya dia belum menunujukkan tanda-tanda layak menyandang status penerus Boaz, masih sulit beranjak dari bayang-bayang legenda hidup Persipura Jayapura itu.

Di saat Boaz absen karena harus membela timnas, penyerang kelahiran 21 September 1993 yang nyaris gabung ke Persib Bandung itu justru kesulitan kembali ke bentuk permainan terbaiknya. Bahkan, sudah 17 pertandingan Kayame puasa mencetak gol.

Penurunan permainan Kayame bisa dikatakan terjadi setelah dirinya mengalami cedera hamstring. Meski tergolong tidak parah, namun sejak terakhir kali mencetak gol ke gawang Pusamania Borneo FC di Stadion Segiri, 15 Juli 2016, Kayame seperti lupa caranya memperdaya kiper lawan.

Total kayame baru mengemas tiga gol dari 15 laga yang dilakoninya bersama Perspura selama ISC A 2016 bergulir, dua gol lainnya dia ciptakan ketika membantu Persipura mengalahkan PS TNI dengan skor 3-1 di Stadion Pakansari, Bogor, 19 Juni 2016. Setelah menggelontorkan bola ke gawang PS TNI dan PBFC, nama Kayame tak pernah lagi mencetak gol.

Pada laga sebelumnya melawan PBFC di Stadion Mandala, Kayame yang dimainkan sejak menit awal oleh Pelatih Angel Alfredo Vera tak mampu membantu Mutiara Hitam meraih kemenangan setelah harus puas dengan hasil imbang tanpa gol. Dalam beberapa pertandingan sebelumnya, Kayame lebih sering dimainkan sebagai pemain pengganti dan bahkan tak dimainkan sama sekali.

Kegagalan dirinya menjawab kepercayaan yang diberikan Alfredo Vera di laga melawan PBFC, akhir pekan lalu, bukan tak mungkin membuat namanya kembali hanya menghiasi daftar pemain cadangan saat Persipura menghadapi Persib dalam lanjutan ISC A 2016 pekan ke-28 di Stadion si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (12/11/2016).

Seperti diketahui Kayame sempat menjalani latihan bersama Persib di era kepelatihan Dejan Antonic. Belum sampai satu bulan berlatih, dia memutuskan kembali ke klub lamanya Persipura kendati saat itu Dejan dan manajemen Persib memberi sinyal bakal mengontraknya. Dejan kala itu bahkan mengungkapkan kekecewaannya oleh keputusan Kayame.

Bakat Ricky Kayame sebenarnya sempat membuat mantan pelatih Persipura Jacksen F Tiago terpukau. Jacksen merekrut Kayame setelah melihat kemampuannya lewat proses seleksi saat putra Ayub Kayame, Kepala Biro Kesra Pemprov Papua itu, masih memperkuat klub amatir PS Koteka Putra Jayapura pada 2012.

Meski sangat jarang memberikan kesempatan bermain kepada Ricky, namun Jacksen kala itu berkeyakinan kalau Ricky bakal jadi pemain hebat dan dia pun tak sungkan menjulukinya sebagai penerus Boaz atau The Next Boaz seperti yang pernah ramai-ramai ditulis media ketika Dejan mengajaknya gabung ke Persib.

Julukan The Next Boaz sendiri belakangan mulai lepas dari Kayame dan kini banyak pihak yang justru mengarahkan julukan tersebut kepada rekannya Marinus Mariyanto Manewar yang baru berusia 18 tahun.(*)

Thursday, November 3, 2016

Ada Apa di Balik Dokumen Sejarah Duel Persib vs Persija Pada Tahun 1957 Ini?

View Article
Persib melawan Persija di kompetisi Perserikatan 1987. via Google Images
Karena daya tarik dan popularitasnya sepak bola tak hanya melulu soal menang dan kalah, kompetisi untuk mencari juara dan lain sebagainya yang identik dengan kata prestasi. Sepak bola bisa menjadi alat yang tepat untuk mendukung suatu hal di luar urusan sepak bola dan olahraga.

Salah satunya adalah menggelar pertandingan charity atau laga amal untuk mengumpulkan donasi bagi mereka yang membutuhkan. Seperti untuk kepentingan penelitian kesehatan, bantuan bagi korban bencana alam dan lain sebagainya. Beberapa bintang sepak bola dunia dikenal cukup rajin jadi inisiator laga amal, salah satunya adalah mantan bintang Manchester United dan timnas Inggris, David Beckham.

Di Indonesia sejumlah pemain profesional di Tanah Air sempat menggelar pertandingan amal untuk rekan seprofesi yang nasibnya kini kurang beruntung akibat dililit cedera parah seperti Alfin Tuasalamony dan M Nasuha di Solo dan Sleman, awal Februari 2016. Tak hanya untuk Alfin dan Nasuha, hasil pendapatan dari laga tersebut juga disumbangkan kepada pelatih, pemain, dan mantan pemain yang membutuhkan.

Laga amal juga dilakukan oleh Persib Bandung dan Perses Sumedang di Stadion Ahmad Yani, Kabupaten Sumedang, 25 September 2016. Pertandingan tersebut sengaja digelar untuk mengumpulkan dana bagi warga korban banjir bandang di Sumedang dan Garut. Hasilnya berkat animo luar biasa bobotoh, laga ini bisa mengumpulkan dana lumayan besar untuk disumbangkan kepada para korban.

Memanfaatkan kekuatan sepak bola yang bisa membuat lapangan hijau jadi arena untuk beramal di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak era kompetisi Kejurnas PSSI atau dikenal juga dengan nama Perserikatan.

Paling tidak itu yang dilakukan oleh Persib Bandung dan Persija Jakarta bersama PS Siliwangi yang berpartisipasi dalam pertandingan segitiga di Stadion Siliwangi, 6-8 September 1957. Persib, Persija, dan PS Siliwangi rela berkeringat di lapangan demi tugas mulia.

Ketiga tim menggelar laga uji coba segitiga untuk mengumpulkan dana bagi korban banjir yang saat itu melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bandung, khususnya Bandung Selatan yang berdasarkan catatan sejarah telah jadi wilayah langganan banjir sejak awal abad ke-19 dan masih terus terjadi hingga sekarang.

Dulu Persib dan Persija memang bukanlah dua tim yang berseteru, sehingga embel-embel laga klasik pun menjadi terasa 'sumir' saat dilekatkan untuk menggambarkan duel Maung Bandung dan Macan Kemayoran di era sekarang.

(Mungkin) banyak bobotoh, terutama yang sudah mengikuti perkembangan dan mendukung Persib sejak era Perserikatan lebih setuju menyebut duel klasik itu ketika Maung Bandung jumpa PSMS Medan, atau PSM Makassar, atau bisa juga Persebaya Surabaya.

Untuk menarik minat warga untuk datang berduyun-duyun datang ke Stadion Siliwnagi menyaksikan laga amal ini, panitia pertandingan melakukan berbagai cara. Salah satunya dengan memasang iklan di media cetak terkait jadwal pertandingan dan harga tiket yang dijual.

"HEBAT!! SERU!! HEBAT
PERTANDINGAN BESAR SEPAK-BOLA DI STADION SILIWANGI
PENDAPATAN 100% UNTUK MENJOKONG KORBAN BADJIR
Tgl 6 SEPTEMBER 1957: Kes. PERSIB - Kes. SILIWANGI (Mulai djam 16.30)
Tgl 7 SEPTEMBER 1957: Kes. Siliwangi - Kes. PERSIDJA (Mulai djam 16.30)
Tgl 8 SEPTEMBER 1957: Kes. PERSIB - Kes. PERSIDJA (Mulai djam 16.00)"


Demikian sebagian dari isi pesan yang disampaikan melalui iklan tersebut.

Meski hanya iklan usang dari masa lampau, namun iklan tersebut memiliki pesan lebih dari sekadar dokumen sejarah.


Iklan jadul tersebut menjadi terasa kontradiktif jika melihat situasi sekarang. Ketika Persib dan Persija bertemu faktor keamanan selalu jadi isu utama, tengok saja seperti apa pengawalan yang dilakukan ketika Maung dan Macan terlibat duel.

Semuanya dimulai dari gesekan suporter kedua tim pada akhir era 1990-an. Perseteruan suporter kedua tim yang terus berkembang dan terasa sangat sulit dikontrol karena kerap menimbulkan korban jiwa. Membangun dendam dan menebar kebencian terlihat lebih kentara dibandingkan membangun perdamaian.(*)